Berkomunikasi dan praktik langsung adalah cara cepat dan tepat dalam belajar bahasa asing. Santriwati Gontor Putri pun diwajibkan untuk berbicara bahasa Arab dan Inggris sejak tiga bulan ia resmi tinggal di pondok. Mereka wajib menggunakan kosa kata baru yang sudah diberikan dalam sesi muhadatsah pagi dan pelajaran di kelas.
Canggung? tentu saja. Karena santriwati tak hanya harus mematuhi peraturan tersebut tapi juga dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kehidupan pondok, kehidupan baru yang berbeda dari sebelumnya. Peraturan dan lingkungan pondok yang menuntut santriwati untuk bercakap dalam bahasa Arab dan Inggris memudahkan mereka menguasai keduanya.
Namun berbeda saat santriwati sudah lulus. Peraturan tak boleh berbahasa Indonesia sudah tidak berlaku lagi, santriwati yang selama ini terbiasa ngobrol, belajar, marah, nggosip alias ghibah, hingga bermimpi dalam bahasa asing, merasa bebas dan terlalu senang dengan tak adanya peraturan bahasa.
Akibatnya, keterampilan santriwati dalam berbahasa Arab dan Inggris luntur sedikit demi sedikit. Dulu cas, cis, cus, dan fasih, sekarang?. Fenomena inilah yang menginspirasi Pak Fuad Effendi, alumni Gontor Putra, yang juga tinggal di Malang untuk mendirikan dan memulai acara Nadi ‘Arabi.
“Ini adalah kelompok untuk bahasa Arab. Anggotanya ya alumni, dari putra dan putri, yang dapat berkumpul satu hingga dua kali sebulan dan selama pertemuan semua diwajibkan berbahasa Arab,” ucapnya Minggu (17/2/08).
Nah, bagi rekan-rekan alumni Gontor Putri (dan Putra) yang berdomisili di Malang Raya dan sekitarnya dapat ikut serta dalam acara ini. Jika berminat, dapat menghubungi Dewi, Kiki, atau Nadia.
